Sabtu, 01 Maret 2014

Pertemuan Istimewa

Malam
Saat manusia sedang istirahat dari aktivitasnya
Saat angin diam berhenti dari perjalanannya.
Saat semua penerangan terpadamkan
mengiringi gelapnya langit dunia.
Di sepertiga malam menjelang pagi

alam bawah sadar seorang hamba
membangunkannya.

Takbiratul ihram menggetarkan jiwanya,
makhraj dan tajwid menyempurnakan kekhusyukannya,
Rukuk dan sujud mencerminkan
hormat dan cintanya...
Tak seorang pun yang menyaksikannya.
Keluarganya, apalagi tetangganya.
Kecuali Allah Sang Pengasih yang tersenyum
menatap hamba-Nya.
Manakah ada sebuah keindahan,
selain Shalat Malam?
Sebuah pertemuan istimewa
yang ia gelar hanya untuk Khaliqnya.
Manakah ada persoalan yang lebih besar,
selain seorang hamba yang berzikir mengingat
Tuhannya?

Manakah ada ilmu yang lebih tinggi,
selain tafakurnya seorang hamba yang
merenungkan alam semesta?
Inilah pertemuan yang membawa
Nabi SAW berlinang air mata.
Pertemuan rahasia yang insya Allah
akan membuka setiap simpul persoalan
manusia...

Sabtu, 01 Februari 2014

Pesan persahabatan, cinta, mimpi dan nasionalisme dalam film “5 cm."


Persahabatan, cinta, impian, nasionalisme, itulah yang dapat dipetik pelajaran dari sebuah film dari Rizal Mantovani berjudul “5 cm”, yang disadur langsung dari novel karya Donny Dhirgantoro. Dalam kehidupan kita, seorang teman, sahabat merupakan bagian terpenting yang mewarnai perjuangan hidup ini. Semua orang, saya rasa tahu tentang arti persahabatan itu, waloupun tak semua merasakannya. Para pendahulu kita, orang tua misalnya, punya segudang cerita dan kenangan terkait hal yang satu ini. Dan bagaimana mereka menjadi lebih hidup, lebih bersemangat, karena orang-orang yang dicintai selalu saling mendukung, memberi motivasi dalam perjalanan hidup ini…
Mungkin semua pengalaman tersebut dapat terwakili dalam kisah lima sahabat dalam film “5 cm”. Film ini bercerita tentang persahabatan 5 mahasiswa yang tetap awet sampai 10 tahun. Mereka antara lain Genta (Fedi Nuril), seorang jenius yang selalu membuat terobosan dlm mimpim-mimpinya, Ariel (Denny Sumargo), sahabat paling kekar yang tidak pernah ketinggalan “kecap”nya disetiap menu makanan, Riani (Raline syah), satu-satunya cewek dalam persahabatan ini, cantik, cerdas dan mimiliki kebiasaan “membajak” kuah mie temannya, Ian (Igor Saykoji), si gendut yang hobi banget maen game, makan mie, inilah yang membuat ia ketinggalan menyelesaikan kuliahnya, dan Zafran (Herjunot Ali)yang mengaku paling keren, seorang seniman yang gila dengan puisi dan syairnya. Yang menarik, usaha kerasnya mendekati cewek, Adinda (Pevita pearce) sebagai adek Ariel.
Genta sebagai leader memiliki ide untuk berpisah sementara selama 3 bulan, dan untuk merayakan reonian pertemuan mereka kembali, petualangan dimulai. Mahameru sebagai puncak tertinggi gunung Semeru, puncak tertinggi pulau Jawa, menjadi tempat yang akan tak terlupakan sebagai petualangan mereka. Disinilah sebenarnya inti cerita film ini, yaitu persahabatan, cinta, mimpi dan Nasionalisme.
Semuanya terwakili dalam statment motivasi sebelum mereka memulai pendakian,
“kita perlu kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya (Genta), mata yang akan menatap lebih lama daripada biasanya (Ian), leher yang akan lebih sering melihat ke atas (Ariel), lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja (Riani), hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya (Zafran), serta mulut yang akan selalu berdoa (Adinda).”
Ungkapan tersebut, dalam tackline lain diperkuat dengan,
“Setelah doa, maka disiplin yang akan membuat kita selamat”.
Wujud sikap persahabatan mereka semakin terasa dalam setiap detik pendakian menuju Mahameru. Beratnya medan dan minimnya pengalaman mereka, sangat membutuhkan sikap yang sebenarnya dari sebuah persahabatan. Mereka dituntut untuk tidak gengsi jika tak kuat melangkah lagi, dan sahabat yang lainnya akan mendekat, menolong, memeluk, seperti ketika Ariel merasa kedinginan yang hebat bagai tertusuk jarum. Seperti ketika Zafran kakinya terluka, semua terluka, Ian yang hampir mati terkena benturan runtuhan batu, semua terluka dan hampir putus asa.
Genta menyerahkan estafet leader kepada Zafran, untuk mencapai Mahameru. Dan Zafran mulai berorasi motivasi semangat dan puitis, “taruh puncak itu, dan kita semua di sini”, biarkan mimpi itu menggantung, sambil meletak jari telunjuk di depan kening dengan jarak 5 cm. Mimpi mencapai Mahameru semakin dekat, dan luar biasa bahagianya mencapai puncak gunung Semeru, Mahameru. Mencapai puncak sebagai simbol impian-impian mereka. Puncak dimana mereka sadar akan kekayaan negeri, Indonesia, dan memacu untuk menjaga dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Puncak dimana mereka terkesima melihat “lukisan alam”, mereka merasa kecil dan bersyukur oleh ciptaan sang Pencipta yang Agung.
Tepat tanggal 17 Agustus, seperti di sebagian besar puncak gunung di Indonesia sering diadakan upacara bendera untuk memperingati hari kemerdekaan, mereka berikrar dan bersumpah sebagai anak negeri dan bangsa Indonesia. Sebagaimana ikrar semangat nasionalisme ala Ian;
“Saya Ian, saya bangga bisa berada di sini bersama kalian semua… Saya akan mencintai tanah ini seumur hidup saya,… saya akan menjaganya dengan apapun yang saya punya, saya akan menjaga kehormatannya seperti saya menjaga diri saya sendiri… Seperti saya akan selalu menjaga mimpi-mimpi saya terus hidup bersama tanah air tercinta ini…… …yang berani nyela’ Indonesia… ribut sama gue..!”
Mereka sadar bahwa mereka lahir dan besar makan dari tanah Indonesia, minum dari air Indonesia, hidup dari kekayaan alam Indonesia. Hingga akhirnya, Ian sadar dan membatalkan rencananya ingin meneruskan studi di Manchester, England dan memutuskan melanjutkan hidup bersama Indoensia.
Dan sebenarnya, “perjalanan menuju Mahameru adalah perjalanan hati”, keyakinan yang kuat dan memandu menapaki hidup yang indah ini.
Refleksi
Ditengah derasnya produksi film horor-esekesek di industri perfileman Indonesia, seperti film-film yang bertema nasionalisme, sejarah dan kearifan lokal,“5 cm” juga ikut andil dalam membasmi sisa-sisa kejayaan film-film horor indonesia dan kemegahan film-film Barat. Syuting yang dilakukan di ketinggian 3.676 m dpl (di atas permukaan laut), di puncak yang mendapat julukan Langit Pulau Jawa, adalah pertama kali dalam film Indoensia. Dan yang jelas, film adalah salah satu film bertama nasionalisme lain yang akan menambah rasa cinta pada negeri ini.
Unsur drama cinta segi empat oleh Genta, Riani, Zafran, Adinda dan unsur comedy membuat cerita film ini romantis dan menghibur, meledakkan tawa penonton. Cinta yang bersemi antar sahabat itu, berhasil membuat penasaran dan memunculkan ending yang tak terduga. Hal yang membuat lucu adalah gabungan unsur romantic-comedic, seperti strategi-strategi Juplek atau Zafran dalam mendapatkan cinta adinda, tapi malah ditanggapi kaku dan lugu. Hingga munculnya Happy Salma, yang semula ada pada poster dan khayalan-khayalan Ian, menjadi kenyataan di akhir cerita, ini sangat membuat geli (memang akhir-akhir ini Happy Salam sering menjadi bintang tamu dalam film-film bagus Indonesia).
Dan saya memahami, itu merupakan jawaban tentang benar tidaknya mitos. Dimana di lereng yang disebut “tanjakan cinta”, orang yang ketika mendaki terus memikirkan orang yang dicintai, maka akan menjadi jodoh. Itu mitosnya, bisa benar bisa salah. Jawaban itu dikemas ketika Juplek memang tidak berjodoh dengan adinda, dan malah si gendut Ian yang terwujud mimpinya menikahi Happy Salma, punya anak lagi,, aduh,, sekali lagi geli.
Tapi itulah comedy-nya, dari awal cerita unsur ini memang begitu lekat. Dari kebiasan masing-masing sahabat, perjuangan Ian menyelesaikan skripsi, hingga adegan paling tegang pun akhirnya menjadi comedyc. Uh,,, sang sutradara memang begitu cerdas membawa emosi para penontonnya.
Saya sendiri merefleksikan diri sebagai salah satu 5 sahabat tersebut, seperti dalam kehidupan nyata. Dimana saya merasa selalu jadi Ian yang banyak membutuhkan uluran tangan sahabat lainnya. Banyak membutuhkan semangat, karena ketidak percayaan diri. Memang benar, sahabat itu bagai satu jiwa, satu badan. Jika satu sakit, sakit semua, satu jatuh, jatuh semua.
Tentang kepercayaan diri, ini yang sebenarnya menjadi ruh dalam mencapai mimpi. Dengan menyatukan semua indra ditambah doa dan kedisiplinan, selanjut terserah Tuhan. Maka mimpi itu semakin dekat.
Donny memang luar bisa sebagai pencipta cerita, begitu juga Rizal yang sukses mengarahkan para pemain. Tapi yang menjadi catatan di sini, film yang mirip dengan road-movie ini, jika kita membaca novelnya terlebih dahulu, maka akan merasa terputus-putus ceritanya. Dan akan kecewa dengan kurang lamanya perjuangan pendakian. Terkesan ingin cepat sampai. Maka saya sarannya tonton filmnya dulu, jika memang hobi nonton dan suka membaca novel.
Secara keseluruhan, patut diacungi dua jempol karya Rizal Mantovani ini..
 By; Anwar mohammad


Jumat, 31 Januari 2014

DIRIKU ISTIMEWA

PADA zaman dahulu, hiduplah seorang guru yang sangat bijaksana. dia membuka 'sekolah kehidupan' bertempat dipunggung sebuah gunung, yang dibawahnya terbentang persawahan dan perkampungan penduduk. Sekolah ini menarik, karena mengajarkan bagaimana setiap orang agar hidup lebih baik, menyediakan diri untuk menyepi sambil dibimbing oleh sang guru. Kalo dirasa cukup, setiap murid yang dipandang mampu oleh guru disuruh menyebarkan kebenaran-kebenaran tentang kehidupan.

Ada seorang murid yang dipandang pantas untuk segera menamatkan di sekolah kehidupan ini. Pemuda tersebut cerdas, memiliki komitmen, visi dan semangat juang yang tinggi. Namun sayang, dia mengalami kesulitan berbicara alias gagu. Ketika sang guru menawarkan kepadanya untuk segera 'turun gunung' dalam rangka menjalankan tugas dakwah, pemuda ini pun langsung mengelak. Dia merasa belum pantas dan masih terlalu muda. Bagaimana mungkin ia yang masih relatif muda mampu memberitakan kebenaran kepada penduduk desa tempat ia tinggal, apalagi dia mengalami gangguan berbicara.

Sambil tersenyum, guru ini meminta di pemuda untuk menuliskan apa yang dirasakannya ketika sang guru memberikan potongan mangga yang asam ke mulut pemuda tersebut, ia pun menulis "asam". Lalu ia memberikan potongan pepaya yang manis ke mulutnya, ia pun menulis "manis". Kemudian, sang gurupun mengajak pemuda tersebut melihat bagaimana ia memberikan kedua potongan makanan tersebut kepada burung beo miliknya. Ketika potongan mangga yang asam diberikan kepada burung beo ini, burung beo ini pun bertiak, "Asam ... asam ...!" Lalu, burung beo tersebut diberikan potongan pepaya yang manis, dan kembali burung beo tersebut berteriak dengan suara keras, "Asam ... asam ...!".


Guru tersebut mengatakan bahwa kebenaran bukan sesuatu yang harus dihapalkan dan di ucapkan saja. Karena seseorang lebih mempercayai kebenaran melalui tingkah laku dari pada hanya ucapan-ucapan yang indah. Kebenaran harus diyakini benar dan kemudian taat kepada semua syariat-Nya.

Siapakah di dunia ini yang lahir tanpa kekurangan? Jawabannya, tidak ada! kalaupun manusia melihat ada yang begitu sempurna, pada dasarnya ia belum sempurna karena mungkin ada kekurangan yang masih ditutupi agar tidak terlihat oleh lingkungannya. Rasanya tidak pas jika ada yang mengklaim bahwa manusia memiliki potensi yang tidak terbatas, sebab hanya Allah sendiri yang tidak terbatas. Ketika Allah berkehendak untuk menghentikan napas kehidupan seseorang maka segala kelebihan yang ada pada manusia pun akan sirna. Namun langkah yang terpenting adalah, bagaimana kita menerima keberadaan diri dan melihat potensi diri yang masih bisa dikembangkan lebih lanjut.

Jadi, mulai saat ini, lakukan perbuatan baik dan positif yang bisa dilakukan sekecil apapun. Tutup mulut untuk keluh-kesah, upayakan senantiasa bersyukur, serta lakukan inventarisasi kelebihan  dan kekurangan diri. Dengan sering mengucapkan syukur dan merenungkan makna kehidupan, kita akan semakin menyadari bahwa sebenarnya setiap diri kita berharga dan istimewa di mata Sang Pencipta kalo kita mau memberikan kebaikan pada orang lain. Akhirnya pemuda ini pun dengan yakin dan semangat untuk segera 'turun gunung'.



Kamis, 30 Januari 2014

Bertemu Allah Tak Harus di Surga

Ketika kubuka mataku dari nikmatnya tidur yang lelap. Aku teringat bahwa Rasul menyuruh untuk mengucap alhamdulillah. Ketika kuambil air wudhu untuk menyucikan diri, bertemulah aku dengan dinginnya air di pancuran kamar mandi. Ketika ku langkahkan kakiku keluar dari pintu, kembali aku teringat ketika Rasul terkasih mengajarkan doa disetiap saat dan waktu.

Ketika terdengar suara panggilan azan Subuh, berulang kali aku berbisik menjawab untuk mengagungkan Tuhanku,
Ketika bilal melantunkan iqamah sebagai tanda shalat jemaah harus dimulai, dengan penuh rasa cinta, takut, dan haru, kuluruskan safku di antara saudara-saudaraku.

Ketika kuangkat kedua tanganku untuk memulai shalatku, kurasakan betapa semakin kecilnya diriku
Dan ketika keningku menyentuh sajadah tempat sujudku, semakin terasa betapa rendahnya diriku.

Ya Rabbi, Penggenggam langit dan bumi
Subuh dan Dhuhur, Ashar, Maghrib, bahkan Isya' dan Dhuha, adalah waktu-waktu yang Engkau ciptakan agar kami semua tidak terlena dalam perangkap kehidupan dunia.
Dan ketika malam tiba, ketika semua orang lelap dalam kealpaannya, Rasul-Mu bangun dari tidurnya, memberi teladan yang tak terkatakan indahnya,
sujud begitu lama, rukuknya tumaknina, di bilik yang sangat sederhana, air matapun bercucuran sebagai tanda cinta dan syukur tiada tara.

Ya Kariim,
Ketika kulihat anak-anak jalanan, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, kuteringat ayat-Mu yang sangat indah, bahwa manusia yang menghardik mereka, adalah Engkau katakan sebagai pendusta agama.
Ketika kulihat para pekerja yang sibuk dengan pekerjaannya, kuteringat lagi akan ayat-Mu, bahwa yang Engkau nilai bukanlah hasil kerjanya, tetapi bagaimana sikap mereka dalam melakukan pekerjaannya.

Ya Aliim,
Ketika kurenungi lembaran buku pelajar dan juga literatur mahasiswa, matematika, biologi, dan fisika, manajemen, akuntansi dan bahasa, bahkan ilmu hukum, kedokteran, dan informatika,
aku pun terpaku, dan mataku menjadi berkaca-kaca, karena di setiap lembaran itu kembali aku bertemu dengan keindahan 'wajah-Mu'.

Ya Rahmaan,
Ketika hujan dan panas silih berganti mewarnai bumi ini, banyak orang kecewa karena merasa terhalang aktivitasnya.
Ketika persoalan demi persoalan menimpa setiap manusia, banyak yang sedih bahkan ada yang menuduh Engkau tidak adil padanya, tapi kutahu, bahwa semua itu adalah demi kasih sayang-Mu kepada kami semua.

Dengan adanya hujan, kami tidak lagi gersang.
Dengan adanya panas, cuaca menjadi benderang.

Dengan adanya cobaan, manusia memang harus berjuang.
Dengan adanya persoalan, manusia akan menjadi matang.


Ah...rasanya tak ada sedetik pun sebuah peristiwa yang bukan karena kasih-Mu. Tak ada sebutir benda pun yang bukan karena kesengajaan-Mu. Dan tak satu pun makhluk hidup yang bergerak, kecuali karena ketetapan-Mu.

Rabbi,
Sungguh kini aku menjadi semakin sadar, kemana saja mata memandang, malam ataukah siang, sendirian ataukah banyak orang, kami semua pasti bertemu dengan-Mu. Sayang, jika di antara hamba-Mu banyak yang tidak merasakan hal itu,

Karenanya, ya Hayyu, ...
Berilah aku ilmu dan hati, agar aku mampu dan bisa merasakan betapa nikmatnya bertemu dengan-Mu, di setiap saat, di sepanjang waktu...


Taufik Djafri


Jumat, 28 Juni 2013

Sahabatku..

Bissmillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh

Sahabatku.. jika saja di hari ini ada jiwa yang tengah menggigil digigit sunyi maka izinkanlah sejenak saja deretan kata sederhanaku mengetuk hati dan mengalir memasuki jiwamu, menggugah dan mengalihkan keluhan yang sempat terlintas di langit hatimu dan mengubahnya menjadi untaian syukur, agar kita senantiasa berada dalam ridhoNya.

Wahai jiwa-jiwa yang tenang.. "Jangan 'kesendirian' membuatmu khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain tentang pilihanmu". Segera perbarui lagi niatmu, teguhkan kembali dan katakanlah bahwa kesendirian itu adalah cerminan ketangguhan...dan kemenangan dalam memerangi gelora nafsu di dadamu...

Katakan dengan lantang "Aku bahagia melihat iblis tidak lagi memiliki celah untuk menjerumuskanku..". Agar kamu bahagia dalam kesendirianmu, sebelum pilihan Allah menemuimu di ujung yang pasti nanti. Agar kesendirian itu tidak sia-sia.. tidak kosong.. agar kesendirian itu penuh makna.. dalam rangka terus mendekatkan diri kepada Allah yang telah menebarkan cintaNya di hati-hati manusia, dalam gerimis dan kabut-kabut yang dihembus awan.

Pahamilah.. jika rasa dan kekecewaan yang membelit jiwamu itu masih berbekas dan menindih logikamu, segera ma'afkan dan relakan. Cinta yang sesungguhnya tidak akan membutakanmu, tidak akan membuat telingamu tuli. Tidak.. tidak akan pernah.

Cinta sejati adalah cinta yang senantiasa bersahutan.., berderu-deru dalam gemuruh ombak.., beriak di gelisah lautan.., diam dalam ketenangan.., indah dalam kesedihan.., nikmat dalam kekecewaan.. dan tidak mati dengan kematian.. Cinta yang akan tetap indah, dan berbalas meski terbagi miliyaran angka tak terbatas semesta.. Itulah cinta Allah, arahkan cinta kita untuk meraih cintaNya.

Aku tahu, sendiri itu tidaklah seindah syair-syair yang kulukis. Ada cerita tersembunyi dalam kesendirian yang tak siapapun mengingkari, ada iri, ada euphoria dan khawatir. Aku tidak menyalahkanmu, aku hanya ingin menawarkan sebuah obat untuk kekecewaan itu. Obat sederhana, yang mungkin bosan terdengar di telingamu. Ya... kita sering mendengar "Ikhlaskanlah..", tapi telinga kita tuli, tidak mendengar atau sedikit saja memahami.

Ketahuilah, Allah telah menyediakan sepenggal kata ini untuk kita pahami. Ikhlas adalah obat yang sangat tepat bagi semua macam bentuk penyakit yang mengguncang tubuh maupun jiwa termasuk kegagalan dan segala bentuk kekecewaan, bahkan kematian..

Maafkanlah, relakanlah dan arahkan kembali cinta itu. Karena belum tentu, saat cinta manusia yang kamu kagumi itu akan melahirkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika Allah mencintaimu.

Dari kesemua itu pesanku adalah "Jangan sampai kesendirianmu membuatmu bersedih atau khawatir, padahal kamulah orang orang yang benar dan berhati hati dalam mengarungi masa muda ini." Bangkit.. bangkitlah.. sayangi tubuhmu, sayangi hatimu. Tidak ada yang akan lebih peduli selain dirimu. Bangkitlah.. segera temui Rabbmu di sana. Jangan biarkan airmata mengering di wajahmu, segera basuh dengan air wudhu. Kita masih merasa beruntung memiliki tempat mengadu dari segala kegelisahan. Dalam shalat, benamkan wajahmu segera..!

Demikianlah sahabatku.. semoga renungan ini bermanfaat. Akhirnya
tulisan inipun kuakhiri dengan serinai SENYUM terkembang untukmu...

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh

Selasa, 26 Maret 2013

Kisah Muthi'ah

Kisah “Muthi’ah”, Istri Solehah di zaman Rosulullah
 
"Siti Muthi'ah"
"FATIMAH anakku, maukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budi dan istri yang dicintai suami?" tanya sang ayah yang tak lain adalah Nabi SAW. "Tentu saja, wahai ayahku"
"Tidak jauh dari rumah ini berdiam seorang perempuan yang sangat baik budi pekertinya. Namanya Siti Muthi'ah. Temuilah dia, teladani budi pekertinya yang baik itu".
Gerangan amal apakah yang dilakukan Siti Muthi'ah sehingga Rasulpun memujinya sebagai perempuan teladan? Maka bergegaslah Fatimah menuju rumah Muthi'ah dengan mengajak serta Hasan, putra Fatimah yang masih kecil itu.
Begitu gembira Muthi'ah mengetahui tamunya adalah putri Nabi besar itu. "Sungguh, bahagia sekali aku menyambut kedatanganmu ini, Fatimah. Namun maafkanlah aku sahabatku, suamiku telah beramanat, aku tidak boleh menerima tamu lelaki dirumah ini."
"Ini Hasan putraku sendiri, ia kan masih anak-anak." kata Fatimah sambil tersenyum.
"Namun sekali lagi maafkanlah aku, aku tak ingin mengecewakan suamiku, Fatimah."
Fatimah mulai merasakan keutamaan Siti Muthi'ah Ia semakin kagum dan berhasrat menyelami lebih dalam akhlak wanita ini. Lalu diantarlah Hasan pulang dan bergegaslah Fatimah kembali ke Muthi'ah.
"Aku jadi berdebar-debar," sambut Siti Muthi'ah, gerangan apakah yang membuatmu begitu ingin kerumahku, wahai puteri Nabi?"
"Memang benarlah, Muthi'ah. Ada berita gembira buatmu dan ayahku sendirilah yang menyuruhku kesini. Ayahku mengatakan bahwa engkau adalah wanita berbudi sangat baik, karena itulah aku kesini untuk meneladanimu, Wahai Muthi'ah."
Muthi'ah gembira mendengar ucapan Fatimah, namun Muthi'ah masih ragu. "Engkau bercanda sahabatku? aku ini wanita biasa yang tidak punya keistimewaan apapun seperti yang engkau lihat sendiri."
"Aku tidak berbohong wahai Muthi'ah, karenanya ceritakan kepadaku agar aku bisa meneladaninya." Siti Muthi'ah terdiam, hening. Lalu tanpa sengaja Fatimah melihat sehelai kain kecil, kipas dan sebilah rotan di ruangan kecil itu.
"Buat apa ketiga benda ini Muthi'ah" Siti Muthi'ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. "Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Iapun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas"
"Sungguh luar biasa pekertimu, Muthi'ah. Lalu untuk apa rotan ini?"
Kemudian aku berpakaian semenarik mungkin untuknya. Setelah ia bangun dan mandi, kusiapkan pula makan dan minum untuknya. Setelah semua selesai, aku berkata kepadanya: "Oh, kakanda. Bilamana pelayananku sebagai istri dan masakanku tidak berkenan dihatimu, aku ikhlas menerima hukuman. Pukullah badanku dengan rotan ini dan sebutlah kesalahanku agar tidak kuulangi"
"Seringkah engkau dipukul olehnya, wahai Muthi'ah?" tanya Fatimah berdebar-debar.
"Tidak pernah, Fatimah. Bukan rotan yang diambilnya, justru akulah yang ditarik dan didekapnya penuh kemesraan. Itulah kebahagiaan kami sehari-hari".
"Jika demikian, sungguh luar biasa, wahai Muthi'ah. Sungguh luar biasa! Benarlah kata ayahku, engkau perempuan berbudi baik." kata Fatimah terkagum-kagum.

Minggu, 13 November 2011

Friends


SAHABAT...
karena sahabat, ku masih berdiri disini
karena sahabat, ku masih bisa tersenyum seperti detik ini
karena sahabat, ku bisa tertawa disaat sedihku
SAHABAT..
kuharap kau tak letih menjaga persahabatan kita..
SAHABAT..
kuharap persahabatan kita kekal abadi..

Pemilu 2019 Di Desa Simpur Kab. HSS

Hari ini Rabu, 17 April 2019... Pertama kalinya dalam sejarah demokrasi di Indonesia, pemilu dilaksanakan serentak memilih...